Pengantar Filsafat Ilmu
![]() |
| Bing.com |
Apakah Filsafat?
Alkisah bertanyalah seorang awam kepada ahli filsafat yang arif bijaksana. " Coba sebutkan kepada saya beberapa jenis manusia yang terdapat dalam kehidupan ini berdasarkan pengetahuannya!" Filsuf itu menarik napas panjang dan berpantun: Ada orang yang tahu yang ditahunyaAda orang yang tahu di tidakditahunyaAda orang yang tidak tahu ditahunyaAda orang yang tidak tahu di tidaktahunya "Bagaimanakah caranya agar saya mendapatkan pengetahuan yang benar?" sambung orang awam itu; penuh hasrat dalam ketidaktahuannya. "Mudah saja," jawab filsuf itu, "ketahuilah apa yang kau tahu dan ketahuilah apa yang tidak kau tahu."
1. Pengertian Filsafat
Istilah filsafat dapat ditinjau dari dua segi yaitu semantik dan praktis. Dari segi semantik perkataan filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia berarti philos yang berarti cinta, suka (love) dan Sophia berati pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi philosopia dapat diartikan sebagi cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Dari pengertian tersebut, setiap orang yang berfisafat akan menjadi bijaksana, selalu mencari kebenaran dari pengetahuanya.
Seeorang yang cinta kepada pengetahuan disebut philosopher, dalam bahasa Arab disebut failasuf. Dari segi praktis filsafat berarti alam pikiran atau alam berfikir. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat maknanya berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Rene Descartes, seorang pelopor filsafat modern dan pelopor pembaharuan pada abad ke 17 terkenal dengan ucapannya, “Cogito ergo Sum” yang bararti karena berpikir, maka saya ada sebagai landasan filsafatnya. Berfilsafat berarti berpangkal kepada suatu kebenaran yang fundamental atau pengalaman yang asasi.
Titus (Wulandari, 2012) dalam bukunya living Issues in Philosophy mengemukakan beberapa pengertian filsafat yaitu:
Suriasumantri (20007) Seseorang yang berfilsafat dapat diumpamakan seorang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang- bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Aatau seorang yang berdiri dipuncak tinggi, memandang ke ngarai dan lembah dibawanya. Dia igin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya.
Karakteristik berfikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya. Dia ingin melihat hakikat ilmu dengan moral. Kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagiaan kepada dirinya.
Kita sering melihat seorang ilmuwan yang picik. Ahli fisika nuklir memandang rendah kepada ahli ilmu sosial. Lulusan IPA merasa lebih tinggi dari lulusan IPS. Atau lebih sedih lagi, seorang ilmuwan memandang rendah kepada pengetahuan lain. Mereka meremehkan moral, agama dan nilai estetika. Mereka, para ahli yang berada dibawah tempurung disiplin keilmuannya masing-masing, sebaiknya tengadah ke bintang - bintang dan tercengang. Masih ada langit lain di luar tempurung kita. Dan kita pun menyadari kebodohan kita sendiri.
Karakteristik berfikir filsafat yang kedua adalah sifat mendasar. Dia tidak lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. mengapa ilmu dapat disebut benar? Lalu benar sendiri itu apa? seperti sebuah lingkaran maka pertanyaan itu melingkar. Dan menyusun sebuah lingkaran, kita harus mulai dari satu titik, yang awal dan pun sekaligus yang akhir. Lalu bagaimana menentukan titik awal yang benar?
Memang demikian, secara terus terang tidak mungkin kita menangguk pengetahuan secara keseluruhan, dan bahkan kita tidak yakin kepada titik awal yang menjadi jangkar pemikiran yang mendasar. Dalam hal ini kita hanya berspekulasi dan inilah yang merupakan ciri filsafat yang ketiga yakni sifat spekulatif.
Timbul kecurigaan terhadap filsafat. Bukankah spekulasi ini suatu dasar yang tidak bisa diadakan? seorang filsuf akan menjawab: memang namun hal ini tidak bisa dihindarkan. menyusur suatu lingkaran kita harus mulai dari sebuah titik bagaimanapun juga spekulatifnya. yang penting adalah bahwa dalam prosesnya, baik dalam analisis maupun pembuktiannya, kita bisa memisahkan spekulasi mana yang dapat diandalkan dan mana yang tidak. Apakah yang disebut logis? Apakah yang disebut benar? Apakah yang disebut sahih? apakah alam ini teratur atau kacau? Apakah hidup ini ada tujuannya atau absurd? Adakah hukum yang mengatur alam?. Dari serngkaian spekulasi ini kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari penjelajahan pengetahuan. Tanpa menetapkan kriteria tentang apa yang disebut benar maka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang di atas dasar kebenaran. Tanpa menetapkan apa yang disebut baik atau buruk maka kita tidak mungkin berbicara tentang moral. Demikian juga tanpa wawasan apa yang disebut indah atau jelek tidak mungkin kita berbicara tentang kesenian.
Pokok permasalahan yang kemudian mejadi cabang utama filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang disebut benar dana apa yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika), serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek/buruk (estetika). Kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang lebih spesifik diantaranya: Epistemologi (filsafat pengetahuan), etika (filsafat moral), estetika (filsafat seni), metafisika, politik (filsafat pemerintahan), filsafat agama, filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat hukum, filsafat sejarah dan filsafat matematika.
Bahrum (2013) Kajian epistemologi membahas tentang bagaimana proses mendapatkan ilmu pengetahuan, hal-hal apakah yang harus diperhatikan agar mendapatkan pengetahuan yang benar, apa yang disebut kebenaran dan apa kriterianya. Objek telaah epistemologi adalah mempertanyakan bagaimana sesuatu itu datang, bagaimana kita mengetahuinya, bagaimana kita membedakan dengan lainnya, jadi berkenaan dengan situasi dan kondisi ruang serta waktu mengenai sesuatu hal.
Jadi, yang menjadi landasan dalam tataran epistemologi ini adalah proses apa yang memungkinkan mendapatkan pengetahuan logika, etika, estetika, bagaimana cara dan prosedur memperoleh kebenaran ilmiah, kebaikan moral dan keindahan seni, apa yang disebut dengan kebenaran ilmiah, keindahan seni dan kebaikan moral. Dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang dapat diandalkan tidak cukup dengan berpikir secara rasional ataupun sebaliknya berpikir secara empirik saja karena keduanya mempunyai keterbatasan dalam mencapai kebenaran ilmu pengetahuan. pencapaian kebenaran menurut ilmu pengetahuan didapatkan melalui metode ilmiah yang merupakan gabungan atau kombinasi antara rasionalisme dengan empirisme sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi.
Poedjawijatna (Kasmawati, 2008) Etika merupakan cabang filsafat. Etika mencari kebenaran dan sebagai cabang filsafat ia mencari keterangan (benar) yang sedalam-dalamnya. Sebagai tugas tertentu bagi etika, ia mencari ukuran baik buruknya bagi tingkah laku manusia, etika hendak mencari tindakan manusia manakah yang baik.
Dari semua cabang filsafat, etika dibedakan karena tidak mempersoalkan keadaan manusia melainkan bagaiman ia harus bertindak. Etika adalah filsafat tentang praxis manusia, etika adalah praksiologik, sifat dasar etika adalah sifat kritis, etika bertugas untuk mempersoalkan norma yang dianggap berlaku. Diselidikinya apakah dasar suatu norma itu dan apakah dasar itu membenarkan ketaatan yang dituntut oleh norma itu. Terhadap norma yang de facto berlaku, etika mengajukan pertanyaan tentang legitimasinya (apakah berlaku de jure pula). Norma yang tidak dapat mempertahankan diri akan kehilangan haknya.
Etika dapat mengantarkan orang kepada kemampuan untuk bersikap kritis dan rasional, untuk membentuk pendapatnya sendiri dan bertindak sesuai dengan apa yang dapat dipertanggungjawabkannya sendiri. Etika manyanggupkan orang untuk mengambil sikap yang rasional terhadap semua norma, baik norma tradisi maupun lainnya, sekaligus etika membantu orang menjadi otonom. Otonomi manusia tidak terletak dalam kebebasan dari segala norma dan tidak sama dengan kesewenang-wenangan, melainkan tercapai dalam kebebasan untuk mengakui norma yang dinyakininya sendiri sebagai kewajibannya. Justru dalam persaingan ideologi dan berbagai sistem normatif,serta berhadapan dengan berbagai lembaga yang kian hari kian berkuasa, seolah-olah begitu saja menuntut agar masyarkat tunduk terhadap ketentuan mereka, etika diperlukan sebagai pengantar pemikiran kritis dan dewasa yang dapat membedakan apa yang sah dan apa yang palsu, dengan demikian memungkinkan kita untuk mengambil sikap sendiri serta ikut menentukan arah perkembangan masyarakat.
Mengatasi dua pemahaman itu orang kemudian banyak menggunakan skema Cristian Wolff. Wolff (Zulhemi, 2019) membagai metafisika kedalam dua cabang besar. Pertama, metafisika umum yang kemudian disebut ontologism. Kedua metafisika khusus, terdiri atas kosmologis metafisik, antropologi metafisik, dan teologi metafisik.
Metafisika sesungguhnya mengarah kepada pembentukan sistem-sistem ide; dan ide-de ini mungkin memberikan kita suatu penilaian tentang hakikat realitas, atau member alasan mengapa kita mesti puas dengan mengetahui sesuatu yang belum menjelaskan hakikat realitas, bersama dengan metode penguasaan apapun yang dapat diketahui. Metafisika membicarakan watak yang sangat mendasar (ultimate) dari benda, atau realitas yang berbeda dibelakang pengalaman langsung (immediate experience). Selanjutnya menjelaskan metafisika berusaha untuk menyajikan pandangan yang komprehensif tentang segala yang ada; ia membicarakan problema seperti hubungan antara akal dan benda, hakikat perubahan, arti kemerdekaan kemauan, wujud Tuhan dan percaya kehidupan sesudah mati bagi setiap orang.
Persoalan yang muncul dalam pembahasan metafisika diantara; pertama, Ada dan Bukan ada. Aristoteles membatasi tugas metafisika sebagai pembahasan tentang “ada sebagai ada itu sendiri” (beingqua being”). Aristoteles berfikir bahwa disana harus ada satu disiplin yang membhas hakikat benda sebagai satu keseluruhan dan bukan hanya dalam aspek tertentu. Setiap metafisika berbicara tentang Ada, karena setiap metafisika berusaha untuk menyajikan perian yang sangat umum atas struktur segala sesuatu yaitu, perian yang mengkarakterisasikan dan berlaku bagi semua yang ada, aka nada maupun yang dapat ada. Cukup jelas bahwa persoalan tentang hakikat segala sesuatu dapat dijawab dengan yang berbeda-beda, persoalan dijawab sebagaimana adanya, begitulah arah metafisika.
Persoalan ketiga, Substansi dan Aksidensi. Substansi meliputi segala sesuatu, usaha untuk menyingkapkan substansi dihubungkan dengan pencarian esensi. Beberapa faktor atau karakteristik sesuatu dapat berubah, namun masih tetap ada, sedangkan menyingkirkan faktor yang lainnya akan menghancurkan eksistensi objek tersebut. Eksistensi merupakan esensial bagi semua badan fisik, namun sifat penting terletak pada dalam apakah mereka muncul pada pikiran yang bermaksud memahami Ada dan karakteristiknya.
Penyelidikan terhadap apa arti “substansi” dan kualitas apa yang esensial bagi eksistensi sesuatu merupakan jalan untuk mendefinisikan struktur Ada itu sendiri, karena apa yang kita cari adalah unsur esensial Ada, sesuatu yang memberi substansi pada Ada. Dalam arti yang lebih umum, penyelidikan tersebut akan melatih pikiran untuk menyingkirkan unsur yang tidak penting dan mengembangkan sensitivitas terhadap atribut yang mendefinisikan sesuatu.
Aksidensi tidaklah bersifat kebetulan, melainkan menunjukan sikap metafisis umum, setidaktidaknya, persoalan tentang kualitas aksidental_kualitas yang tidak perlu dimiliki oleh hal individual , secara jelas berhubungan dengan persoalan tentang keniscayaan. Ahli metafisika mengembangkan kemampuan untuk memilih unsur kesempatan dan mengidentifikasi ciri esensial, dengan menempatkan substansi di tengah perubahan yang tidak dapat diramalkan. Sedangkan ahli metafisika yang lain merasakan bahwa keniscayaan harus meliputi semua hal, bukan hanya beberapa hal.
Persoalan keempat, hal yang pertama dan terakhir. Hubungan antara teologi dan metafisika muncul, karena teologi mungkin atau tidak mungkin berkaitan dengan perkembangan ajaran teknis yang melibatkan persoalan yang disketsakan dalam tiga persoalan sebelumnya. Beberapa Filsuf mengangkat persoalan ini dalam rangka mendukung persoalan bahwa metafisika itu dibatasi oleh bagaimana metafisika mendekati persoalan ini dan dimana dan mengapa metafisika menetapkan batasnya
Titus (Wulandari, 2012) dalam bukunya living Issues in Philosophy mengemukakan beberapa pengertian filsafat yaitu:
- Philosophy is an attitude toward life and unieverse (filsafat adalah sikap terhadap kehidupan dan alam semeste).
- Philosophy is a method of reflective thingking and reasoned inquiry (filsafat adalah suatu metode berfikir dan pengkajian yang secara rasional).
- Philosophy is a group of problems (filsafat adalah sekelompok masalah).
- Philosophy is a group of system of thought (filsafat adalah serangkaian sistem berfikir)
2. Karakteristik Filsafat
Karakteristik berfikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya. Dia ingin melihat hakikat ilmu dengan moral. Kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagiaan kepada dirinya.
Kita sering melihat seorang ilmuwan yang picik. Ahli fisika nuklir memandang rendah kepada ahli ilmu sosial. Lulusan IPA merasa lebih tinggi dari lulusan IPS. Atau lebih sedih lagi, seorang ilmuwan memandang rendah kepada pengetahuan lain. Mereka meremehkan moral, agama dan nilai estetika. Mereka, para ahli yang berada dibawah tempurung disiplin keilmuannya masing-masing, sebaiknya tengadah ke bintang - bintang dan tercengang. Masih ada langit lain di luar tempurung kita. Dan kita pun menyadari kebodohan kita sendiri.
Karakteristik berfikir filsafat yang kedua adalah sifat mendasar. Dia tidak lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. mengapa ilmu dapat disebut benar? Lalu benar sendiri itu apa? seperti sebuah lingkaran maka pertanyaan itu melingkar. Dan menyusun sebuah lingkaran, kita harus mulai dari satu titik, yang awal dan pun sekaligus yang akhir. Lalu bagaimana menentukan titik awal yang benar?
Memang demikian, secara terus terang tidak mungkin kita menangguk pengetahuan secara keseluruhan, dan bahkan kita tidak yakin kepada titik awal yang menjadi jangkar pemikiran yang mendasar. Dalam hal ini kita hanya berspekulasi dan inilah yang merupakan ciri filsafat yang ketiga yakni sifat spekulatif.
Timbul kecurigaan terhadap filsafat. Bukankah spekulasi ini suatu dasar yang tidak bisa diadakan? seorang filsuf akan menjawab: memang namun hal ini tidak bisa dihindarkan. menyusur suatu lingkaran kita harus mulai dari sebuah titik bagaimanapun juga spekulatifnya. yang penting adalah bahwa dalam prosesnya, baik dalam analisis maupun pembuktiannya, kita bisa memisahkan spekulasi mana yang dapat diandalkan dan mana yang tidak. Apakah yang disebut logis? Apakah yang disebut benar? Apakah yang disebut sahih? apakah alam ini teratur atau kacau? Apakah hidup ini ada tujuannya atau absurd? Adakah hukum yang mengatur alam?. Dari serngkaian spekulasi ini kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari penjelajahan pengetahuan. Tanpa menetapkan kriteria tentang apa yang disebut benar maka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang di atas dasar kebenaran. Tanpa menetapkan apa yang disebut baik atau buruk maka kita tidak mungkin berbicara tentang moral. Demikian juga tanpa wawasan apa yang disebut indah atau jelek tidak mungkin kita berbicara tentang kesenian.
3. Cabang-cabang Filsafat
Pokok permasalahan yang kemudian mejadi cabang utama filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang disebut benar dana apa yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika), serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek/buruk (estetika). Kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang lebih spesifik diantaranya: Epistemologi (filsafat pengetahuan), etika (filsafat moral), estetika (filsafat seni), metafisika, politik (filsafat pemerintahan), filsafat agama, filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat hukum, filsafat sejarah dan filsafat matematika.
a. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan).
Bahrum (2013) Kajian epistemologi membahas tentang bagaimana proses mendapatkan ilmu pengetahuan, hal-hal apakah yang harus diperhatikan agar mendapatkan pengetahuan yang benar, apa yang disebut kebenaran dan apa kriterianya. Objek telaah epistemologi adalah mempertanyakan bagaimana sesuatu itu datang, bagaimana kita mengetahuinya, bagaimana kita membedakan dengan lainnya, jadi berkenaan dengan situasi dan kondisi ruang serta waktu mengenai sesuatu hal.
Jadi, yang menjadi landasan dalam tataran epistemologi ini adalah proses apa yang memungkinkan mendapatkan pengetahuan logika, etika, estetika, bagaimana cara dan prosedur memperoleh kebenaran ilmiah, kebaikan moral dan keindahan seni, apa yang disebut dengan kebenaran ilmiah, keindahan seni dan kebaikan moral. Dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang dapat diandalkan tidak cukup dengan berpikir secara rasional ataupun sebaliknya berpikir secara empirik saja karena keduanya mempunyai keterbatasan dalam mencapai kebenaran ilmu pengetahuan. pencapaian kebenaran menurut ilmu pengetahuan didapatkan melalui metode ilmiah yang merupakan gabungan atau kombinasi antara rasionalisme dengan empirisme sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi.
b. Etika (Filsafat Moral)
Poedjawijatna (Kasmawati, 2008) Etika merupakan cabang filsafat. Etika mencari kebenaran dan sebagai cabang filsafat ia mencari keterangan (benar) yang sedalam-dalamnya. Sebagai tugas tertentu bagi etika, ia mencari ukuran baik buruknya bagi tingkah laku manusia, etika hendak mencari tindakan manusia manakah yang baik.
Dari semua cabang filsafat, etika dibedakan karena tidak mempersoalkan keadaan manusia melainkan bagaiman ia harus bertindak. Etika adalah filsafat tentang praxis manusia, etika adalah praksiologik, sifat dasar etika adalah sifat kritis, etika bertugas untuk mempersoalkan norma yang dianggap berlaku. Diselidikinya apakah dasar suatu norma itu dan apakah dasar itu membenarkan ketaatan yang dituntut oleh norma itu. Terhadap norma yang de facto berlaku, etika mengajukan pertanyaan tentang legitimasinya (apakah berlaku de jure pula). Norma yang tidak dapat mempertahankan diri akan kehilangan haknya.
Etika dapat mengantarkan orang kepada kemampuan untuk bersikap kritis dan rasional, untuk membentuk pendapatnya sendiri dan bertindak sesuai dengan apa yang dapat dipertanggungjawabkannya sendiri. Etika manyanggupkan orang untuk mengambil sikap yang rasional terhadap semua norma, baik norma tradisi maupun lainnya, sekaligus etika membantu orang menjadi otonom. Otonomi manusia tidak terletak dalam kebebasan dari segala norma dan tidak sama dengan kesewenang-wenangan, melainkan tercapai dalam kebebasan untuk mengakui norma yang dinyakininya sendiri sebagai kewajibannya. Justru dalam persaingan ideologi dan berbagai sistem normatif,serta berhadapan dengan berbagai lembaga yang kian hari kian berkuasa, seolah-olah begitu saja menuntut agar masyarkat tunduk terhadap ketentuan mereka, etika diperlukan sebagai pengantar pemikiran kritis dan dewasa yang dapat membedakan apa yang sah dan apa yang palsu, dengan demikian memungkinkan kita untuk mengambil sikap sendiri serta ikut menentukan arah perkembangan masyarakat.
c. Metafisika
Istilah metafisika dan ontologi kadang-kadang dipahami berbeda dan kadang-kadang dipahami sama. Secara etimologis Metafisika berasal dari istilah Yunani yaitu "ta metata physika" artinya “ sesudah atau dibelakang realitas fisik”; Ontologi: to on bie on. On merupakan bentuk netral dari oon. Dengan bentuk genetifnya ontos; artinya “Yang-ada sebagai yang-ada” (a being as being).
Mengatasi dua pemahaman itu orang kemudian banyak menggunakan skema Cristian Wolff. Wolff (Zulhemi, 2019) membagai metafisika kedalam dua cabang besar. Pertama, metafisika umum yang kemudian disebut ontologism. Kedua metafisika khusus, terdiri atas kosmologis metafisik, antropologi metafisik, dan teologi metafisik.
Metafisika sesungguhnya mengarah kepada pembentukan sistem-sistem ide; dan ide-de ini mungkin memberikan kita suatu penilaian tentang hakikat realitas, atau member alasan mengapa kita mesti puas dengan mengetahui sesuatu yang belum menjelaskan hakikat realitas, bersama dengan metode penguasaan apapun yang dapat diketahui. Metafisika membicarakan watak yang sangat mendasar (ultimate) dari benda, atau realitas yang berbeda dibelakang pengalaman langsung (immediate experience). Selanjutnya menjelaskan metafisika berusaha untuk menyajikan pandangan yang komprehensif tentang segala yang ada; ia membicarakan problema seperti hubungan antara akal dan benda, hakikat perubahan, arti kemerdekaan kemauan, wujud Tuhan dan percaya kehidupan sesudah mati bagi setiap orang.
Persoalan yang muncul dalam pembahasan metafisika diantara; pertama, Ada dan Bukan ada. Aristoteles membatasi tugas metafisika sebagai pembahasan tentang “ada sebagai ada itu sendiri” (beingqua being”). Aristoteles berfikir bahwa disana harus ada satu disiplin yang membhas hakikat benda sebagai satu keseluruhan dan bukan hanya dalam aspek tertentu. Setiap metafisika berbicara tentang Ada, karena setiap metafisika berusaha untuk menyajikan perian yang sangat umum atas struktur segala sesuatu yaitu, perian yang mengkarakterisasikan dan berlaku bagi semua yang ada, aka nada maupun yang dapat ada. Cukup jelas bahwa persoalan tentang hakikat segala sesuatu dapat dijawab dengan yang berbeda-beda, persoalan dijawab sebagaimana adanya, begitulah arah metafisika.
Persoalan ketiga, Substansi dan Aksidensi. Substansi meliputi segala sesuatu, usaha untuk menyingkapkan substansi dihubungkan dengan pencarian esensi. Beberapa faktor atau karakteristik sesuatu dapat berubah, namun masih tetap ada, sedangkan menyingkirkan faktor yang lainnya akan menghancurkan eksistensi objek tersebut. Eksistensi merupakan esensial bagi semua badan fisik, namun sifat penting terletak pada dalam apakah mereka muncul pada pikiran yang bermaksud memahami Ada dan karakteristiknya.
Penyelidikan terhadap apa arti “substansi” dan kualitas apa yang esensial bagi eksistensi sesuatu merupakan jalan untuk mendefinisikan struktur Ada itu sendiri, karena apa yang kita cari adalah unsur esensial Ada, sesuatu yang memberi substansi pada Ada. Dalam arti yang lebih umum, penyelidikan tersebut akan melatih pikiran untuk menyingkirkan unsur yang tidak penting dan mengembangkan sensitivitas terhadap atribut yang mendefinisikan sesuatu.
Aksidensi tidaklah bersifat kebetulan, melainkan menunjukan sikap metafisis umum, setidaktidaknya, persoalan tentang kualitas aksidental_kualitas yang tidak perlu dimiliki oleh hal individual , secara jelas berhubungan dengan persoalan tentang keniscayaan. Ahli metafisika mengembangkan kemampuan untuk memilih unsur kesempatan dan mengidentifikasi ciri esensial, dengan menempatkan substansi di tengah perubahan yang tidak dapat diramalkan. Sedangkan ahli metafisika yang lain merasakan bahwa keniscayaan harus meliputi semua hal, bukan hanya beberapa hal.
Persoalan keempat, hal yang pertama dan terakhir. Hubungan antara teologi dan metafisika muncul, karena teologi mungkin atau tidak mungkin berkaitan dengan perkembangan ajaran teknis yang melibatkan persoalan yang disketsakan dalam tiga persoalan sebelumnya. Beberapa Filsuf mengangkat persoalan ini dalam rangka mendukung persoalan bahwa metafisika itu dibatasi oleh bagaimana metafisika mendekati persoalan ini dan dimana dan mengapa metafisika menetapkan batasnya
Referensi
Andi, Kasmawati. Filsafat, Etika, dan Hukum dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan.http://digilib.unm.ac.id/files/disk1/6/universitas%20negeri%20makassar-digilib-unm-andikasmaw-293-1-humanis-8.pdf
Bahrum. 2013. Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=8&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjP79WMheToAhXTV30KHXMbAcsQFjAHegQICBAB&url=http%3A%2F%2Fjournal.uin-alauddin.ac.id%2Findex.php%2Fsls%2Farticle%2Fdownload%2F1276%2F1243&usg=AOvVaw1wzoyltYi95iOqSpSCmqPR
Suriasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Wulandari, Agustina. 2012. Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat Ilmu. https://afidburhanuddin.files.wordpress.com/2012/05/pengertian-dan-ruang-lingkup-filsafat-ilmu_agustina-wulandari_oke.pdf
Zulhemi. 2019 . Metafisika Suhrawadi: Gradasi Essensi dan Kesadaran Diri.https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwibmN-lmOToAhVe63MBHTVVCIYQFjABegQIARAB&url=http%3A%2F%2Fjurnal.radenfatah.ac.id%2Findex.php%2FJIA%2Farticle%2Fdownload%2F3602%2F2393%2F&usg=AOvVaw1c1zqvpe8FbDTEthy5nMul
Zulhemi. 2019 . Metafisika Suhrawadi: Gradasi Essensi dan Kesadaran Diri.https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwibmN-lmOToAhVe63MBHTVVCIYQFjABegQIARAB&url=http%3A%2F%2Fjurnal.radenfatah.ac.id%2Findex.php%2FJIA%2Farticle%2Fdownload%2F3602%2F2393%2F&usg=AOvVaw1c1zqvpe8FbDTEthy5nMul

Komentar
Posting Komentar