Pengantar Filsafat Ilmu

                                                                                                                                                                            Bing.com

 

Apakah Filsafat?

 

Alkisah  bertanyalah seorang awam kepada ahli filsafat yang arif bijaksana. " Coba sebutkan kepada saya beberapa jenis manusia yang terdapat dalam kehidupan ini berdasarkan pengetahuannya!" Filsuf itu menarik napas panjang dan berpantun: Ada orang yang tahu yang ditahunyaAda orang yang tahu di tidakditahunyaAda orang  yang tidak tahu ditahunyaAda orang yang tidak tahu di tidaktahunya "Bagaimanakah caranya agar saya mendapatkan pengetahuan yang benar?" sambung orang awam itu; penuh hasrat dalam ketidaktahuannya. "Mudah saja," jawab filsuf itu, "ketahuilah apa yang kau tahu dan ketahuilah apa yang tidak kau tahu."

 

1. Pengertian Filsafat


Istilah  filsafat  dapat  ditinjau  dari  dua  segi yaitu semantik  dan  praktis.  Dari  segi  semantik perkataan filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia  berarti philos yang berarti cinta, suka (love) dan Sophia berati pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi philosopia dapat diartikan sebagi cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Dari pengertian tersebut, setiap orang yang berfisafat akan menjadi bijaksana, selalu mencari kebenaran dari pengetahuanya.

Seeorang yang cinta kepada pengetahuan disebut philosopher, dalam bahasa Arab  disebut  failasuf.  Dari  segi  praktis  filsafat  berarti  alam  pikiran  atau  alam  berfikir. Berfilsafat  artinya  berpikir.  Namun  tidak  semua  berpikir  berarti  berfilsafat.  Berfilsafat maknanya berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Rene  Descartes,  seorang  pelopor  filsafat  modern  dan  pelopor  pembaharuan  pada abad  ke  17  terkenal  dengan  ucapannya,  “Cogito  ergo Sum”  yang  bararti  karena  berpikir, maka  saya  ada  sebagai  landasan  filsafatnya.  Berfilsafat  berarti  berpangkal  kepada  suatu kebenaran yang fundamental atau pengalaman yang asasi.  

Titus (Wulandari, 2012) dalam bukunya living Issues in Philosophy mengemukakan beberapa pengertian filsafat yaitu:
  1. Philosophy is an attitude toward life and unieverse (filsafat adalah sikap terhadap kehidupan dan alam semeste).
  2. Philosophy is a method of reflective thingking and reasoned inquiry (filsafat adalah suatu metode berfikir dan pengkajian yang secara rasional).
  3. Philosophy is a group of problems (filsafat adalah sekelompok masalah).
  4. Philosophy is a group of system of thought (filsafat adalah serangkaian sistem berfikir)

 

2. Karakteristik Filsafat


Suriasumantri (20007) Seseorang yang berfilsafat dapat diumpamakan seorang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang- bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Aatau seorang yang berdiri dipuncak tinggi, memandang ke ngarai dan lembah dibawanya. Dia igin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya. 

Karakteristik berfikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas lagi  mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya.  Dia ingin melihat hakikat ilmu dengan moral. Kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagiaan kepada dirinya. 

Kita sering melihat seorang ilmuwan yang picik. Ahli fisika nuklir memandang rendah kepada ahli ilmu sosial. Lulusan IPA merasa lebih tinggi dari lulusan IPS. Atau lebih sedih lagi, seorang ilmuwan memandang rendah kepada pengetahuan lain. Mereka meremehkan moral, agama dan nilai estetika. Mereka, para ahli yang berada dibawah tempurung disiplin keilmuannya masing-masing, sebaiknya tengadah ke bintang - bintang dan tercengang. Masih ada langit lain di luar tempurung kita. Dan kita pun menyadari kebodohan kita sendiri.

Karakteristik berfikir filsafat yang kedua adalah sifat mendasar. Dia tidak lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. mengapa ilmu dapat disebut benar? Lalu benar sendiri itu apa? seperti sebuah lingkaran maka pertanyaan itu melingkar. Dan menyusun sebuah lingkaran, kita harus mulai dari satu titik, yang awal dan pun sekaligus yang akhir. Lalu bagaimana menentukan titik awal yang benar?

Memang demikian, secara terus terang tidak mungkin kita menangguk pengetahuan secara keseluruhan, dan bahkan kita tidak yakin  kepada titik awal  yang menjadi jangkar pemikiran yang mendasar. Dalam hal ini kita hanya berspekulasi dan inilah yang merupakan ciri filsafat yang ketiga yakni sifat spekulatif.

Timbul kecurigaan terhadap filsafat. Bukankah spekulasi ini suatu dasar yang tidak bisa diadakan? seorang filsuf akan menjawab: memang namun hal ini tidak bisa dihindarkan. menyusur suatu lingkaran kita harus mulai dari sebuah titik bagaimanapun juga spekulatifnya. yang penting adalah bahwa dalam prosesnya, baik dalam analisis maupun pembuktiannya, kita bisa memisahkan spekulasi mana yang dapat diandalkan dan mana yang tidak. Apakah yang disebut logis? Apakah yang disebut benar? Apakah yang disebut sahih? apakah alam ini teratur atau kacau? Apakah hidup ini ada tujuannya atau absurd? Adakah hukum yang mengatur alam?. Dari serngkaian spekulasi ini kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari penjelajahan pengetahuan. Tanpa menetapkan kriteria tentang apa yang disebut benar maka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang di atas dasar kebenaran. Tanpa menetapkan apa yang disebut baik atau buruk maka kita tidak mungkin berbicara tentang moral. Demikian juga tanpa wawasan apa yang disebut indah atau jelek tidak mungkin kita berbicara tentang kesenian.


3. Cabang-cabang Filsafat


Pokok permasalahan yang kemudian mejadi cabang utama filsafat mencakup tiga segi yakni  apa yang disebut benar dana apa  yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika), serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek/buruk (estetika). Kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang lebih spesifik diantaranya: Epistemologi (filsafat pengetahuan), etika (filsafat moral), estetika (filsafat seni), metafisika, politik (filsafat pemerintahan), filsafat agama, filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat hukum, filsafat sejarah dan filsafat matematika.

    

   a. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan). 


Bahrum (2013) Kajian epistemologi membahas tentang bagaimana proses mendapatkan ilmu pengetahuan, hal-hal apakah yang harus diperhatikan agar mendapatkan pengetahuan yang benar, apa yang disebut kebenaran dan apa kriterianya.  Objek telaah epistemologi adalah mempertanyakan bagaimana sesuatu itu datang, bagaimana kita mengetahuinya, bagaimana kita membedakan dengan lainnya, jadi berkenaan dengan situasi dan kondisi ruang serta waktu mengenai sesuatu hal.

Jadi, yang menjadi landasan dalam tataran epistemologi ini adalah proses apa yang memungkinkan mendapatkan pengetahuan logika, etika, estetika, bagaimana cara dan prosedur memperoleh kebenaran ilmiah, kebaikan moral dan keindahan seni, apa yang disebut dengan kebenaran ilmiah, keindahan seni dan kebaikan moral.  Dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang dapat diandalkan tidak cukup dengan berpikir secara rasional ataupun sebaliknya berpikir secara empirik saja karena keduanya mempunyai keterbatasan dalam mencapai kebenaran ilmu pengetahuan.  pencapaian kebenaran menurut ilmu pengetahuan didapatkan melalui metode ilmiah yang merupakan gabungan atau kombinasi antara rasionalisme dengan empirisme sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi.


       b. Etika (Filsafat Moral)


Poedjawijatna  (Kasmawati, 2008) Etika  merupakan  cabang filsafat.  Etika  mencari  kebenaran  dan  sebagai  cabang  filsafat  ia  mencari  keterangan (benar)  yang  sedalam-dalamnya.  Sebagai  tugas  tertentu  bagi  etika,  ia  mencari  ukuran baik  buruknya  bagi  tingkah  laku  manusia,  etika  hendak  mencari  tindakan  manusia manakah yang baik.  

Dari  semua  cabang  filsafat,  etika  dibedakan  karena  tidak  mempersoalkan keadaan manusia melainkan bagaiman ia harus bertindak. Etika adalah filsafat tentang praxis  manusia,  etika  adalah  praksiologik,  sifat  dasar  etika  adalah  sifat  kritis,  etika bertugas  untuk  mempersoalkan  norma  yang  dianggap  berlaku.  Diselidikinya  apakah dasar  suatu  norma  itu dan apakah dasar itu  membenarkan ketaatan  yang  dituntut  oleh norma  itu.  Terhadap  norma  yang  de  facto  berlaku,  etika  mengajukan  pertanyaan tentang   legitimasinya   (apakah   berlaku   de   jure   pula).   Norma   yang   tidak   dapat mempertahankan diri akan kehilangan haknya.

Etika dapat mengantarkan orang kepada  kemampuan untuk bersikap kritis dan rasional, untuk membentuk pendapatnya sendiri dan bertindak sesuai dengan apa yang dapat    dipertanggungjawabkannya    sendiri.    Etika    manyanggupkan    orang    untuk mengambil  sikap  yang  rasional  terhadap  semua  norma,  baik  norma  tradisi  maupun lainnya,  sekaligus  etika  membantu  orang  menjadi  otonom.  Otonomi  manusia  tidak terletak  dalam  kebebasan  dari  segala  norma  dan  tidak  sama  dengan  kesewenang-wenangan,   melainkan   tercapai   dalam   kebebasan   untuk   mengakui   norma   yang dinyakininya  sendiri  sebagai  kewajibannya.  Justru  dalam  persaingan  ideologi  dan berbagai  sistem  normatif,serta  berhadapan  dengan  berbagai  lembaga  yang  kian  hari kian  berkuasa,  seolah-olah  begitu  saja  menuntut  agar  masyarkat  tunduk  terhadap ketentuan  mereka,  etika  diperlukan  sebagai  pengantar  pemikiran  kritis  dan  dewasa yang   dapat   membedakan   apa   yang   sah   dan apa   yang   palsu,   dengan   demikian memungkinkan   kita   untuk   mengambil   sikap   sendiri   serta   ikut   menentukan   arah perkembangan masyarakat.


       c. Metafisika

 

Istilah metafisika dan ontologi kadang-kadang dipahami berbeda dan kadang-kadang dipahami sama. Secara etimologis Metafisika  berasal dari istilah Yunani yaitu "ta metata physika"  artinya “ sesudah atau dibelakang realitas fisik”; Ontologi: to on bie on. On merupakan bentuk netral dari oon. Dengan bentuk genetifnya ontos; artinya “Yang-ada sebagai yang-ada” (a being as being).
 
Mengatasi dua pemahaman itu orang kemudian banyak menggunakan skema Cristian Wolff. Wolff  (Zulhemi, 2019) membagai  metafisika kedalam dua cabang besar. Pertama, metafisika umum yang kemudian disebut ontologism. Kedua metafisika khusus, terdiri atas  kosmologis metafisik, antropologi metafisik, dan teologi metafisik.

Metafisika sesungguhnya mengarah kepada pembentukan sistem-sistem ide; dan ide-de ini mungkin memberikan kita suatu penilaian tentang hakikat realitas, atau member alasan mengapa kita mesti puas dengan mengetahui sesuatu yang belum menjelaskan hakikat realitas, bersama dengan metode penguasaan apapun yang dapat diketahui.  Metafisika membicarakan watak yang sangat mendasar (ultimate) dari benda, atau realitas yang berbeda dibelakang pengalaman langsung (immediate experience). Selanjutnya menjelaskan metafisika berusaha untuk menyajikan pandangan yang komprehensif tentang segala yang ada; ia membicarakan problema seperti hubungan antara akal dan benda, hakikat perubahan, arti kemerdekaan kemauan, wujud Tuhan  dan percaya kehidupan sesudah mati bagi setiap orang. 

Persoalan yang muncul dalam pembahasan metafisika diantara; pertama, Ada dan Bukan ada. Aristoteles membatasi tugas metafisika sebagai pembahasan tentang “ada sebagai ada itu sendiri” (beingqua being”). Aristoteles berfikir bahwa disana harus ada satu disiplin yang membhas hakikat benda sebagai satu keseluruhan dan bukan hanya dalam aspek tertentu. Setiap metafisika berbicara tentang Ada, karena setiap metafisika berusaha untuk menyajikan perian yang sangat umum atas struktur  segala sesuatu yaitu, perian yang mengkarakterisasikan dan berlaku bagi semua yang ada, aka nada maupun yang dapat ada. Cukup jelas bahwa persoalan tentang hakikat segala sesuatu dapat dijawab dengan yang berbeda-beda, persoalan dijawab sebagaimana adanya, begitulah arah metafisika. 

Persoalan ketiga, Substansi dan Aksidensi. Substansi meliputi segala sesuatu, usaha untuk menyingkapkan substansi dihubungkan dengan pencarian esensi. Beberapa faktor atau karakteristik sesuatu dapat berubah, namun masih tetap ada, sedangkan menyingkirkan faktor yang lainnya akan menghancurkan eksistensi objek tersebut. Eksistensi merupakan esensial bagi semua badan fisik, namun sifat penting terletak pada dalam apakah mereka muncul pada pikiran yang bermaksud memahami Ada dan karakteristiknya.

Penyelidikan terhadap apa arti “substansi” dan kualitas apa yang esensial bagi eksistensi sesuatu merupakan jalan untuk mendefinisikan struktur Ada itu sendiri, karena apa yang kita cari adalah unsur esensial Ada, sesuatu yang memberi  substansi pada Ada. Dalam arti yang lebih umum, penyelidikan tersebut akan melatih pikiran untuk menyingkirkan unsur yang tidak penting dan mengembangkan sensitivitas terhadap atribut yang mendefinisikan sesuatu. 

Aksidensi tidaklah bersifat kebetulan, melainkan menunjukan sikap metafisis umum, setidaktidaknya, persoalan tentang kualitas aksidental_kualitas yang tidak perlu dimiliki oleh hal individual , secara jelas berhubungan dengan  persoalan tentang keniscayaan. Ahli metafisika mengembangkan kemampuan untuk memilih unsur kesempatan dan mengidentifikasi ciri esensial, dengan menempatkan substansi di tengah perubahan yang tidak dapat diramalkan. Sedangkan ahli metafisika yang lain merasakan bahwa keniscayaan  harus meliputi semua hal, bukan hanya beberapa hal. 

Persoalan keempat, hal yang pertama dan terakhir. Hubungan antara teologi dan metafisika muncul, karena teologi mungkin atau tidak mungkin berkaitan dengan perkembangan  ajaran teknis  yang melibatkan persoalan yang disketsakan dalam tiga persoalan sebelumnya. Beberapa Filsuf mengangkat persoalan ini dalam rangka mendukung persoalan bahwa metafisika itu dibatasi oleh bagaimana metafisika mendekati persoalan ini dan dimana dan mengapa metafisika menetapkan batasnya


Referensi


Andi, Kasmawati. Filsafat, Etika, dan Hukum dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan.http://digilib.unm.ac.id/files/disk1/6/universitas%20negeri%20makassar-digilib-unm-andikasmaw-293-1-humanis-8.pdf

Bahrum. 2013. Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=8&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjP79WMheToAhXTV30KHXMbAcsQFjAHegQICBAB&url=http%3A%2F%2Fjournal.uin-alauddin.ac.id%2Findex.php%2Fsls%2Farticle%2Fdownload%2F1276%2F1243&usg=AOvVaw1wzoyltYi95iOqSpSCmqPR

Suriasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Wulandari, Agustina. 2012. Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat Ilmu. https://afidburhanuddin.files.wordpress.com/2012/05/pengertian-dan-ruang-lingkup-filsafat-ilmu_agustina-wulandari_oke.pdf 

Zulhemi. 2019 . Metafisika Suhrawadi: Gradasi Essensi dan Kesadaran Diri.https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwibmN-lmOToAhVe63MBHTVVCIYQFjABegQIARAB&url=http%3A%2F%2Fjurnal.radenfatah.ac.id%2Findex.php%2FJIA%2Farticle%2Fdownload%2F3602%2F2393%2F&usg=AOvVaw1c1zqvpe8FbDTEthy5nMul

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Belajar Behavioristik dalam Psikologi Pendidikan

Present Continuous Tense (Progressive)

DIMENSI-DIMENSI PERKEMBANGAN INDIVIDU